Saya bergegas ke kamar menemui mama. Dia tertelungkup sambil terus menangis meratapi kematian ibu yang sangat dia kasihi. 17 Agustus yang baru lewat, mama baru saja kembali dari Tahuna. Mama ke Tahuna untuk melihat dan merawat oma yang kesehatannya agak drop waktu itu. Seminggu lebih mama menghabiskan waktu bersama oma. Sempat oma berpesan, "Jangan lama-lama di Manado". Mama mengiyakan. Dan lagi oma berpesan, "Bilang sama Sergey, jangan lupa kue yang empuk itu untuk saya", kembali mama mengiyakan.
Bagai jatuh dari gedung bertingkat. Kabar kematian oma sangat mengejutkan saya. Serasa tak percaya. Saya bahkan belum sempat bertemu dengan oma 3 tahun belakangan ini. Muncul rasa bersalah yang amat dalam dan sakit hati yang luar biasa dalam diri saya. Ingin berteriak. Tapi tak ada gunanya.
Ada hal yang sangat menguatkan saya ketika tahu oma telah tiada. Bahwa kelak kita masih dapat bertemu lagi dikehidupan yang akan datang. Ya, saya sangat yakin akan hal ini. Bahkan muncul perasaan yang amat membahagiakan dan menenangkan saya. Betapa tidak, oma telah lama menjanda dan sekarang telah tiba waktunya dia bertemu dengan opa. Oma lama menahan sakit dan sekarang dia bisa beristirahat dari perjuangannya melawan sakit yang dia derita. Pengetahuan akan Injil yang dipulihkan menguatkan saya.
Segera setelah mama dapat menenangkan dirinya kembali, mama langsung mempersiapkan keberangkatannya kembali ke Tahuna. Papa, mama, dan saya segera mengatur rencana keberangkatan. Kana, adik perempuan saya telah diberitahukan mengenai kematian oma dan telah dia sampaikan kepada pimpinannya. Dia mendapatkan izin untuk 2 hari agar bisa mengikuti pemakaman oma. Sabtu itu Kana pulang sekitar pukul 2 siang. Langsung bergegas mempersiapkan keperluan yang akan dibawa ke Tahuna.
Rencana pemakaman pun segera diatur dengan keluarga di Tahuna via telepon. Setelah berunding dipilihlah hari Selasa, 23 Agustus 2016. Alasannya untuk menunggu anak perempuan oma dari Palu dan ada rencana untuk menggali kembali makam opa dan akan disatukan dengan makam oma.
Saya segera mempersiapkan foto oma dan keperluan lainnya untuk pemakaman oma nanti. Saya dibantu Lita, pacar saya, mencarikan kebaya untuk dipakaikan nanti ke oma. Kami menemukan setelan kebaya putih yang sangat bagus. Cocok dengan sosok oma yang begitu saya kagumi. Beberapa alasan yang dapat saya berikan atas pilihan itu adalah bahwa kebaya dan batik melambangkan bahwa oma adalah seorang Indonesia, motif bunga pada kebayanya yang cenderung simple melambangkan kesederhanaan, putih melambangkan kemurnian kasihnya bagi temurunnya, batik coklat melambangkan bahwa oma adalah sosok yang kami hormati, bunga tangan berwarna merah dan putih melambangkan bahwa dia meninggal di bulan Agustus, dan sapu tangan ungu lambang bahwa oma telah lama hidup menjanda. Sungguh segala sesuatu harus memiliki makna yang sangat berarti untuk menghormati dan menunjukan kasih saya bagi oma.
Keesokan harinya, Minggu, 21 Agustus 2016. Saya menghadiri pertemuan sakramen dengan mengenakan kemeja hitam. Sebagaimana tradisi adat yang ada sanak keluarga yang mengalami peristiwa duka harus mengenakkan pakaian hitam untuk menunjukan kedukaannya.
Pertemuan sakramen berjalan dengan baik. Dan setelah pertemuan sakramen saya segera bergegas mencari tiket kapal ke Tahuna untuk sore itu. Saya terus menghubungi mama via telepon untuk memastikan ketibaan tante Magdalena dari Palu agar dia tidak ketinggalan kapal hari itu. Setelah tiket kapal sudah saya dapatkan saya kembali ke gereja.
Pertemuan gereja berakhir pukul 12 siang itu. Saya, papa, dan Lita kembali ke rumah. Segera mempersiapkan pakaian yang akan kami bawa ke Tahuna untuk pemakaman oma. Lita kami titipkan untuk mengawasi dan menjagai rumah selama kami di Tahuna.
Sekitar pukul 4 sore taxi yang akan mengantarkan saya dan papa tiba. Kami bergegas ke pelabuhan. Tiba di pelabuhan kami segera menaiki kapal dan mencari ranjang tempat kami akan beristirahat nanti. Setelah menemukan ranjang sesuai yang tertera di tiket kami, saya kembali menghubungi mama untuk mengecek ketibaan tante Magdalena. "Telepon tante Magdalena sudah tidak dapat dihubungi lagi", kata mama "Mungkin batreinya sudah habis". Saya segera keluar kapal dan berdiri di tempat yang tinggi untuk memantau kalau-kalau dia tiba. Dan benar saja. Sekitar 20 menit menunggu saya kemudian mendapatinya kerepotan dengan barang bawaan. Dia ditemani pengangkut barang saat itu. Saya turun dari kapal dan segera menemuinya. Setelah menyalami, saya langsung menunjukan ranjang yang akan ditempatinya.
Kira-kira pukul 5 lebih 30 menit kapal kemudian memulai pelayarannya ke Tahuna. Kami berbaring di ranjang kami dan sesekali bangun untuk menghilangkan penat.
Bertemu dengan sanak keluarga lainnya, Gretty dan Joel, sepupu saya, Oom Joost, dan Tante Analin. Kami sedikit berbincang dan kemudian kembali ke ranjang masing-masing. Pukul 11 malam itu kapal kami sandar di Pelabuhan Laut Ulu, Siau. Sekitar 30 menit di sana, pelayaran dilanjutkan ke Tahuna.
Pukul 3 subuh, hari Senin, 22 Agustus 2016, kapal kami sandar di Pelabuhan Laut Tahuna. Kami di jemput saudara kami. Setelah sedikit lama menunggu kedatangan mereka. Kami tiba di rumah oma kira-kira pukul 3 lebih 30 menit. Turun dari mobil, ingin rasanya saya berlari untuk segera melihat oma, tapi saya coba untuk tetap menenangkan diri dan menyibukan diri dengan mengangkat tas bawaan saya.
Menapaki jalan setapak menuju rumah oma, saya dibawa kembali memori beberapa tahun lalu ketika berlibur di rumah oma. Tiba di depan rumah oma, rasa tidak percaya muncul dalam benak saya. "Hari ini saya menemuinya dalam keadaan yang lain, lain sekali. Kalau dulu saya bisa mendapati tubuhnya untuk kupeluk, sekarang saya hanya bisa menatapnya membisu terbaring dalam hening dan dingin tubuhnya", pikir saya.
Tangis mama dan tante Magdalena pecah saat mereka bertemu. Sepupu saya Gretty bahkan sempat pingsan karena meratapi oma. Joel merunduk dan terus menutupi wajahnya dengan tangan karena menangis. Ibu mereka, tante Asmin, menenangkan mereka berdua. Saya masih terus mencoba menenangkan diri untuk tidak menangis. Mencoba mengikhlaskan kepergian oma.
Saya berlama-lama memandangi oma. Duduk kemudian berdiri, duduk lagi dan berdiri lagi sambil terus menatap wajah oma. Saya beranjak dari sisi peti oma dan membereskan tas bawaan saya. Saya masuk ke dalam kamar, kamar yang biasa ditempati oma. Ketika melihat dinding-dinding kamar dan ranjangnya, saya tak bisa lagi menahan tangis. Saya menangis. Kembali rasa bersalah itu muncul. Saya kembali menenangkan diri saya. Setelah cukup tenang, saya keluar dari kamar dan membawa keluar bungkusan yang berisi kebaya, batik, bunga tangan, dan sapu tangan untuk oma. Saya meminta mama untuk membantu saya menggantikan pakaian oma.

Terlebih dahulu saya memakaikan rok batik untuk Oma. Kemudian dilanjutkan dengan memakaikannya kebaya putih. Mama melepas lagi tangan oma dari posisi yang sudah diatur. "Mama, ini kami anak dan cucumu", kata mama saat sedang membuka genggaman tangan oma. Tidak sulit bagi kami untuk melakukannya. Walaupun tubuh oma telah kaku. Sekitar 15 menit kami menggantikan pakaian oma. Kami selesai dan kembali duduk disamping peti oma. Oma terlihat begitu anggun dan keibuan ketika selesai kami pakaikan kebaya.

Saya sudah tidak dapat memejamkan mata lagi subuh itu. Saya mengambil beberapa foto di seputaran rumah. Saya diajak sarapan pagi itu juga. Saya merasa ada yang kurang. Ternyata benar, foto oma yang sudah saya siapkan tidak mama bawa bersamanya saat ke Tahuna. Foto itu ditinggal di rumah dan disimpan papa. Sempat sedikit adu mulut dengan mama. Kami memutuskan menelepon Lita dan meminta bantuannya untuk mencari foto yang kami maksud. Singkat cerita foto ditemukan. Lita meminta bantuan Noldy, teman kami, untuk dikirimkan menggunakan kapal expres hari itu juga. Pikiran saya tenang sekarang. Foto dan yang paling penting adalah naskah riwayat hidup oma bisa saya dapatkan lagi sore nanti.
Mengelilingi rumah dan bertemu dengan sanak saudara lainnya. Kemudian rencana penggalian makam opa dimatangkan dan mulai dipersiapkan. Pembuatan bangsal duka dilanjutkan juga. Saya segera mandi dan bersiap untuk penghalian makam opa yang rencananya akan dilakukan pukul 9 pagi itu.
Jam menunjukan pukul 12 lebih 30 menit tapi penggalian makam masih belum dilakukan. Ternyata masih menunggu peti opa selesai dibuatkan. Tidak beberapa lama kemudian datanglah rombongan dari SMP Negeri 3 Tahuna untuk melaksanakan ibadah penghiburan untuk keluarga.
Ibadah penghiburan dari SMP Negeri 3 Tahuna usai. Kami pun makan siang bersama. Setelah makan siang bersama beberapa orang melanjutkan pembuatan bangsal duka.
Kira-kira pukul 3 sore kami semua menuju ke makam opa untuk prosesi penggalian makam opa.
Sekitar 30 menit proses penggalian barulah makam opa berhasil dijebol.
Penggalian makam opa dihadiri oleh semua kakak beradik anak-anak opa, termasuk mama. Saat puing makam dibersihkan barulah kerangka opa dikeluarkan dan dimasukan ke dalam peti putih. Sesaat sebelum peti ditutup kakak beradik mama mengambil foto bersama. Tak banyak tulang opa yang tersisa. Mungkin karena opa meninggal lebih dari 27 tahun yang lalu sehingga tidak banyak tulang opa yang tersisa.
Kami kembali ke rumah. Peti opa diletakan di bagian kaki peti oma dengan sebuah meja kecil sebagai penopangnya. Saya, mama, dan Kana bergegas ke pelabuhan untuk mengambil kiriman foto oma yang dikirim Noldy tadi pagi. Sekarang saya benar-benar lega. Kami kembali ke rumah dan bersiap untuk ibadah malam penghiburan malam itu.
Malam penghiburan dimulai kira-kira pukul 8 malam. Sebelum ibadah dimulai riwayat hidup oma di koreksi. Beberapa perubahan dan tambahan dilakukan. Ibadah penghiburan berakhir dan ditutup dengan nyanyian-nyanyian. Kami kemudian makan malam bersama.
Kira-kira pukul 10 malam saya beranjak ke kamar untuk tidur. Malam itu suara para pria yang berjaga di luar rumah begitu nyaring berbalas-balasan menyanyikan lagu-lagu. Mereka menyanyi semalaman suntuk. Kira-kira pukul 4 subuh saya terbangun dari tidur saya. Suara para pria sudah tidak terdengar lagi. Mereka sudah tertidur.
Saya mendapati sepupu saya, Jordy, tidur tepat di samping peti jenazah oma.
Sedikit mengamat-amati saya beranjak ke bagian dapur. Saya menyalakan laptop saya dan mulai menyalin kembali perbaikan riwayat hidup oma. Segera setelah selesai mengetik, saya mentransfer datanya ke tablet.
Pukul 6 pagi, semua orang telah bangun dan perlahan mulai berbenah untuk persiapan ibadah pemakaman hari itu. Saya sedikit berbincang dengan Jordy pagi itu, "Saya tidur di samping oma malam ini untuk terakhir kalinya", katanya sedikit menjelaskan. Para ibu mulai membenah dapur untuk memasak dan para pria melanjutkan pembuatan bangsal duka dan mulai mengatur perlengkapan sound system. Saya membantu memasangkan kain untuk dekorasi ruang tamu dibantu Ivana dan Ivena, sepupu saya yang kembar.
Selesai dengan dekorasi di ruang tamu, saya, Jordy, Kevin sepupu Jordy, dan Edo, adik Jordy sedikit bermain-main di pantai dekat rumah. Kira-kira pukul 10 pagi kami kembali ke rumah. Saya segera bersiap untuk ibadah pemakaman siang itu.
Setelah berpakaian rapi, saya segera keluar kamar dan menemui seorang pria tua. Namanya Rindu Hati Makahanap. Beliau adalah salah seorang keluarga dari garis leluhur oma. Saya sedikit berbicara dengan beliau. Saya menanyakan beberapa hal penting terkait silsilah keluarga oma. Beliau tidak bisa berbahasa Manado dan pendengarannya terbatas. Saya di bantu Oom Jhon, paman saya, untuk menerjemahkannya. Opa Rindu datang melayat bersama seorang puteranya yang adalah seorang tentara.
Setelah berbicara dengan opa Rindu, saya kembali ke dalam rumah. Memastikan papa, mama, dan Kana telah selesai berpakaian, saya kemudian mengajak mereka berfoto bersama di samping peti jenazah oma. Saya pikir ini momen yang tepat untuk berfoto. Kalau menunggu pasti tidak leluasa karena sudah lebih banyak pelayat yang datang.
Setelah berfoto bersama, kami kemudian duduk di sisi peti jenazah oma. Menunggu ibadah pemakaman yang kira-kira masih 3 jam lagi. Pukul 12 siang itu, kami kembali lagi makan siang bersama. Segera setelah makan siang anggota keluarga harus kembali duduk di samping peti jenazah.
Sedikit demi sedikit sanak keluarga yang lain tiba di rumah duka. Bertemu sambil bersalaman dan berciuman pipi menunjukan rasa simpati atas peristiwa duka ini. Kursi-kusi satu per satu mulai terisi.
"Hari yang baik untuk ibadah pemakaman", pikir saya. Matahari siang itu bersinar sangat terik. Membuat gerah. Saya bahkan disarankan mengganti pakaian saya sementara sambil menunggu ibadah dimulai. Saya mengenakan kemeja putih berlengan panjang dan memakai dasi.
Sekitar pukul 1 siang mendadak langit tertutup awan mendung sangat tebal dan akhirnya turun hujan yang sangat deras disertai angin yang cukup kencang. Beberapa karangan bunga duka roboh ditiup angin. Tak menunggu cukup lama kemudian beberapa pria kembali berbenah bangsal duka untuk menghadang genangan air masuk. Mereka juga memindahkan speaker agar tidak basah terkena air hujan. Kira-kira 1 jam hujan turun sangat deras, tapi sekitar pukul 2 siang hujan mulai reda dan ibadah pemakaman pun dimulai.
Diawali ucapan selamat datang dari keluarga acara dilanjutkan dengan kata-kata sambutan di antaranya dari Bupati Kepulauan Sangihe yang diselingi dengan lagu-lagu penghiburan dan pembacaan kawat duka.
Setelah kata-kata sambutan, saya diberikan kesempatan untuk membacakan riwayat hidup singkat dari oma terkasih. Saya beranjak dari tempat saya duduk ketika telah dipersilahkan oleh penuntun acara. Saya mulai mengatur nafas dan perlahan-lahan mulai membacakan riwayat hidup singkat oma. Awalnya mudah bagi saya untuk membacakannya. Tapi mendekati bagian akhir, pikiran saya dipenuhi kenangan bersama oma dan rasa bersalah tidak sempat bertemu beberapa tahun terakhir ini. Saya mulai terisak. Air mata mulai jatuh. Saya pun diam mencoba mengendalikan lagi diri saya. Perlahan saya mulai melanjutkan membaca, walau agak tersendat-sendat. Selesai membaca riwayat hidup singkat oma, saya segera kembali duduk dan menenangkan diri.
Acara dilanjutkan dengan ibadah yang dipimpin oleh seorang Pendeta dari GMIST (Gereja Masehi Injili di Sangihe Talaud) Efata Kolongan Mitung, Tahuna.
Nyanyian dilantunkan dan doa dipanjatkan, mengawali ibadah pemakaman oma. Khotbah pendeta siang itu menghibur dan menguatkan pengharapan keluarga akan kebangkitan orang mati. Sebelum ibadah berakhir, oleh pendeta, diberikan kesempatan bagi keluarga untuk membawakan pujian.
Ibadah pemakaman usai dan dilanjutkan dengan pengungkapan kasih. Diawali oleh anak-anak oma. Mulai dari yang tertua sampai yang paling bungsu, termasuk anak dan cucu. Dilanjutkan oleh sanak keluarga yang lainnya sambil diiringi pembacaan ungkapan terima kasih untuk oma.
Pengungkapan kasih oleh anak Magdalena.
"Mama, ini aku anak mama. Ku ucapkan terima kasih atas cinta kasih mama yang telah menghadirkan aku dan adik-adikku hingga kami ada sampai saat ini, mama yang selalu mengajarkan kami untuk memiliki pengharapan. Karena pengharapan mama selalu mampu untuk melepaskan kami semua dari rasa putus asa. Terima kasih mama, walaupun kini kami belum mampu membalas segala kebaikan mama."
Pengungkapan kasih oleh anak Cerlijus beserta istri, anak, dan cucu.
"Terima kasih mama buat kesabaran mama yang sudah mendidik kami dengan sebaik-baiknya. Terima kasih buat kelemah lembutan mama untuk tidak melukai perasaan kami."
Pengungkapan kasih oleh anak Erastus beserta istri dan anak.
"Mama, walaupun kini mama telah pergi, namun keberanian dan kegembiraan mama yang selalu mampu menyulap suasana suram menjadi cerah akan selalu menjadi kenangan bagi kami kemanapun kami pergi dan berada."
Pengungkapan kasih oleh anak Julia beserta suami dan anak-anak.
"Mama, kami akan selalu mengingat keramahan mama untuk selalu mau mengampuni segala kesalahan kami. Terima kasih buat jaminan kepastian mama yang sudah melayani kami, bahkan memenuhi keperluan kami dari kecil hingga kami dewasa."
Pengungkapan kasih oleh anak Jonreiber beserta istri dan anak-anak.
"Terima kasih mama buat iman kepercayaan mama yang telah membimbing jalan kehidupan kami. Terima kasih mama untuk rasa prihatin mama yang selalu tunduk berdoa bagi kami anak-anak mama."
Pengungkapan kasih oleh sanak keluarga lainnya.
"Oma, terima kasih buat kebaikan oma yang selalu menyayangi kami, walaupun kami sering menyakiti hati oma, namun dengan penuh cinta dan kasih oma tetap merangkul kami, cucu-cucu oma."
Pengungkapan kasih pun berakhir. Penuntun acara pun memberikan kesempatan kepada keluarga untuk memberikan ucapan terima kasih. Ucapan terima kasih usai dilanjutkan dengan penutupan peti jenazah Oma. Walau masih disertai dengan tangis, perlahan peti jenazah Oma ditutup. Sesaat sebelum peti jenazah Oma ditutup beberapa sanak saudara memercikan minyak kayu putih dan minyak wangi ke tubuh Oma. Peti jenazah ditutup dan segera dibawa keluar rumah.
Pengusung peti jenazah menopang peti jenazah oma dengan kuat sambil sedikit menunggu peti tempat kerangka Opa ditutup dan dibawa keluar rumah juga. setelah peeti kerangka Opa telah dibawa keluar, para pengusung peti jenazah diberi aba-aba untuk membawa peti jenazah Oma dan Opa ke tempat pemakaman mereka yang lokasinya tidak jauh dari rumah. Hanya sekitar 200 meter.
Peti jenazah diusung sambil dilantunkan pula lagu-lagu dan masih diiringi tangis dari anak dan cucu-cucu Oma. tidak sampai 5 menit kami telah tiba ditempat pemakaman. peti jenazah Oma dan Opa segera dimasukan ke dalam liang makam. Setelah posisi peti jenazah Oma dan Opa sudah rapi, dan semua yang hadir cukup tenang kebaktian pemakaman pun dimulai.
"Yang berasal dari tanah akan kembali kepada tanah juga. Kita makamkan kekasih kita, Almarhumah Adeltje Sampel dan kekasih kita, Almarhum Bachtiar Sahabat. Di dalam pengharapan dan keyakinan akan kebangkitan dan hidup yang kekal yang dikerjakan oleh Tuhan Yesus Kristus. Ia akan merubah rupa tubuh kita yang hina ini menjadi serupa dengan tubuh-Nya yang mulia dan yang memanggil kita ke dalam yang kekal". Demikian kata-kata pengantar oleh pendeta dilanjutkan dengan pembacaan doa. Doa usai kemudian dilantunkan satu lagu mengakhiri kebaktian pemakaman. setelah kebaktian selesai, para pria yang bertugas untuk menutup makam segera melanjutkan tugas mereka.
Setelah makam telah selesai ditutup satu per satu pelayat dan keluarga kembali ke rumah duka dan dijamu dengan sedikit kue dari keluarga.